Arsip Blog

Selasa, 24 Juli 2012

Kisah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Bersama Orang-Orang Miskin Serta Kemuliaan Memelihara Dan Melindungi Anak Yatim

8
http://tausyah.wordpress.com/sedekah
Sedekah
Dalam sejarah, Rasulullah SAW dikisahkan punya kedekatan hubungan dengan orang-orang miskin, termasuk anak-anak. Bahkan, ketika masuk ke dalam suatu majelis, Rasulullah memilih duduk dalam kelompok orang-orang miskin.
Rasulullah bersabda, “Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari kiamat. Allah mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barang siapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.”
Suatu ketika, pada Hari Raya Idul Fitri, Rasulullah seperti biasanya berkunjung ke rumah-rumah warga. Dalam kunjungannya itu, Rasulullah melihat semua orang bahagia. Anak-anak bermain dengan mengenakan pakaian hari raya. Namun, tiba-tiba pandangan Rasulullah tertuju pada seorang anak kecil yang sedang duduk bersedih.
Anak kecil ini memakai pakaian penuh tambalan dan sepatu rusak. Rasulullah lalu bergegas menghampirinya. Melihat kedatangan Rasulullah, anak kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Rasulullah lantas meletakkan tangannya di atas kepala anak kecil itu dan dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya, “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”
Anak itu menjawab, “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakan bersama orang tuanya dengan bahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah. Ia bertarung bersama Rasulullah bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?
Mendengar cerita itu, seketika hati Rasulullah diliputi kesedihan. Dengan penuh kasih sayang ia lalu membelai kepala anak kecil itu dan berkata, Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?
Anak kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Namun, entah mengapa ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya sebagai tanda menerima tawaran Rasulullah. Kemudian, anak kecil itu bergandengan tangan dengan Rasulullah pulang menuju rumah beliau.
Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan anak kecil itu lalu dibersihkan. Ia kemudian diberi pakaian yang indah dan makanan, serta uang. Lalu ia diantar keluar agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Sikap Rasulullah ini menunjukkan Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial.
http://tausyah.wordpress.com/

Kisah Seorang Pemuda Yang Menjual Diri Dan Hartanya Dengan Syurga Yang Bertemu Bidadari, Karena ALLAH Ta’ala Telah Membeli Diri Dan Harta Mereka Dengan Syurga

9
http://tausyah.wordpress.com/Ahli-Syurga
Ahli Syurga
Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta
mereka dengan memberikan sorga untuk mereka
Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:”Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?” “Ya, benar, anak muda” kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:”Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga.”
Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.
Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:”Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . .” Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu.
Ia menjawab: “Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: “Pergilah kepada Ainul Mardiyah.” Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku, mereka bergembira seraya berkata: “Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . .”
“Assalamu’alaikum” kataku bersalam kepada mereka. “Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?” Mereka menjawab salamku dan berkata: “Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu” Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.
Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: “Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …”
Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: “Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu.” Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: “Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama”.
Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari jasadnya untuk meninggalkan dunianya. ( Irsyadul Ibad ).

Kisah Perjalanan Nabi Sulaiman Alaihissalam Saat Menembus Antara Langit Dan Bumi Bersama Jin Ifrit Serta Seorang Pemuda Yang Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

http://tausyah.wordpress.com/Nabi Sulaiman Dan ratu Bilqis
Nabi Sulaiman Dan ratu Bilqis
Selain seorang nabi, Sulaiman a.s. juga seorang raja terkenal. Atas izin Allah ia berhasil menundukkan Ratu Balqis dengan jin ifrit-Nya. Dia dikenal sebagai manusia boleh berdialog dengan segala binatang. Dikisahkan, Nabi Sulaiman sedang berkelana antara langit dan bumi hingga tiba di satu samudera yang bergelombang besar. Untuk mencegah gelombang, ia cukup memerintahkan angin agar tenang, dan tenang pula samudera itu.
Kemudian Nabi Sulaiman memerintahkan jin Ifrit menyelam ke samudera itu sampai ke dasarnya. DI sana jin Ifrit melihat sebuah kubah dari permata putih yang tanpa lubang, kubah itu diangkatnya ke atas samudera dan ditunjukkannya kepada Nabi Sulaiman.
Melihat kubah tanpa lubang penuh permata dari dasar laut itu Nabi Sulaiman menjadi terlalu heran, “Kubah apakah gerangan ini?” fikirnya. Dengan minta pertolongan Allah, Nabi Sulaiman membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya dia begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.
“Sipakah engkau ini? Kelompok jin atau manusia?” tanya Nabi Sulaiman kehairanan.
“Aku adalah manusia”, jawab pemuda itu perlahan.“Bagaimana engkau boleh memperolehi karomah semacam ini?” tanya Nabi Sulaiman lagi. Kemudian pemuda itu menceritakan riwayatnya sampai kemudian memperolehi karomah dari Allah boleh tinggal di dalam kubah dan berada di dasar lautan.
Diceritakan, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya sehingga dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana jua dia pergi. Si anak selalu berbakti kepada orang tuanya, dan ibunya selalu mendoakan anaknya. Salah satu doanya itu, ibunya selalu mendoakan anaknya diberi rezeki dan perasaan puas diri. Semoga anaknya ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.
“Setelah ibuku wafat aku berkeliling di atas pantai. Dalam perjalanan aku melihat sesuatu yang terbuat dari permata. Aku mendekatinya dan terbukalah pintu kubah itu sehingga aku masuk ke dalamnya.” Tutur pemuda itu kepada Nabi Sulaiman.
Nabi Sulaiman yang dikenali boleh berjalan di antara bumi dan langit itu menjadi kagum terhadap pemuda itu.
“Bagaimana engkau boleh hidup di dalam kubah di dasar lautan itu?” tanya Nabi Sulaiman ingin mengetahui lebih lanjut.
“Di dalam kubah itu sendiri, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah.”
“Bagaimana Allah memberi makan kepadamu?”
“Jika aku merasa lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah, dan buahnya yang aku makan. Jika aku merasa haus maka keluarlah air yang teramat bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu.”
“Bagaimana engkau mengetahui perbedaan siang dan malam?” tanya Nabi Sulaiman a.s yang merasa semakin hairan.
“Bila telah terbit fajar, maka kubah itu menjadi putih, dari situ aku mengetahui kalau hari itu sudah siang. Bila matahari terbenam kubah akan menjadi gelap dan aku mengetahui hari sudah malam.” Tuturnya. Selesai menceritakan kisahnya, pemuda itu lalu berdoa kepada Allah, maka pintu kubah itu tertutup kembali, dan pemuda itu tetap tinggal di dalamnya. Itulah keromah bagi seorang pemuda yang berbakti kepada kedua orang tuanya.
http://tausyah.wordpress.com

Kisah Nyata Seorang Gadis Kecil Penghafal Qur’an Bernama Bar’ah, Penderitaan Hidup Yang Silih Berganti Selalu Ia Lewati Dengan Keikhlasan Dan Kesabaran

6
http://tausyah.wordpress.com/Bar'ah
Bar'ah
Ini adalah kisah gadis berumur 10 tahun bernama Bar`ah, yang orangtuanya dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Pada usia ini, Bar `ah menghafal seluruh Al Qur’an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya. Keluarganya kecil dan berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya … . hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit  perut  yang  parah dan  setelah  beberapa  kali  diperiksakan  diketahuilah  ibu  bar’ah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis.
Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan tidak  menemukan ibunya di sampingnya … dan inilah ucapan ibu bar’ah kepadanya “Bar`ah aku akan pergi ke  surga di depan Anda, tapi aku ingin kamu selalu membaca Al- Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak.. “
Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti apa yang ibunya berusaha beritahukan, Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ibunya mulai dipindahkan ke  rumah  sakit  untuk  waktu  yang  lama.  Gadis  kecil  ini  menggunakan  waktu  sepulang sekolahnya untuk  menjenguk  ibunya ke rumah  sakit  dan  membaca Quran  untuk ibunya sampai malam sampai  ayahnya  datang dan  membawanya  pulang. Suatu hari pihak rumah sakit memberitahu ayah bar’ah  bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepat dia bisa melalui telepon, sehingga ayah bar’ah menjemput Bar `ah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia memintanya untuk tinggal di mobil … sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia.
Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu…tak terbayangkan ..tangis gadis kecil ini pada saat itu…!
Tragedi  Bar  `ah  belum  selesai  sampai  di  sini…  berita  kematian  ayahnya  yang disembunyikan dari ibu bar’ah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini  sendirian  tanpa  kedua orangtuanya  ,  dan  oleh  orangtua  teman-teman  sekolah  bar’ah memutuskan untuk mencarikan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya.
Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Bar `ah mulai mengalami nyeri mirip dengan ibunya  dan oleh keluarga yang mengasuhnya ia lalu diperiksakan , dan setelah beberapa kali tes di dapati bar’ah juga mengidap  kanker … tapi sungguh mencengangkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker….inilah perkataan bar’ah kala itu: “Alhamdulillah, sekarang aku akan bertemu dengan kedua orang tua saya.”
Semua  teman-teman  dan  keluarga  terkejut.  Gadis  kecil  ini  sedang  menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!…..Subhanallah
Orang-orang mulai mendengar tentang Bar `ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan untuk mengurusnya … mereka mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini.
Salah satu saluran TV Islam (Al Hafiz – The pelindung) mendapat kontak dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran … dan ini adalah suara yang indah yang di lantunkan oleh bar’ah …
http://www.youtube.com/watch?v=Gurpc0Z4EwQ
lantunan Suara Bar’ah membaca Qur’an
http://www.youtube.com/watch?v=PfFQ1eQFMuk
Mereka menghubungi lagi Bar’ah sebelum ia pergi ke Coma (nama kota) dan dia berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan Nasheed …
Hari-hari  terlewati  dan  kanker  mulai  menyebar  di  seluruh  tubuhnya,  para  dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah  baginya  …  tapi  beberapa  hari  setelah  operasi  amputasi  kakinya  kanker  sekarang menyebar ke otaknya, lalu oleh dokter  memutuskan untuk melakukan operasi otak … dan sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan
Video Bar’ah lainnya, kondisi di rumah sakit .. .
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang
Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [Al Baqarah:45]
Subhanallah..siapa yang tidak tergugah hatinya setelah mengetahui kabar ini, untuk itu bagi seluruh saudara/i mukminin dan mukminah yang membaca artikel ini, mari berdo’a untuk bar’ah semoga Keselamatan Rahmad dan Berkah ALLAH Tabaraka wa Ta’ala senantiasa baginya juga bagi kedua orang tuanya.

Kisah Seorang Arab Badwi Bersama Rasulullah Yang Tidak Akan Dihisab Di Padang Mahsyar, Diampuni Segala Kesalahannya Dan Menjadi Ahli Syurga, Serta Tangisan Rasulullah Yang Mengguncang Arsy

6
http://tausyah.wordpress.com/Arab
Arab
Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau  mendengar  seseorang  di  hadapannya bertawaf,  sambil berzikir:  “Ya  Karim!  Ya Karim!”Rasulullah  s.a.w.  menirunya  membaca  “Ya  Karim!  Ya  Karim!”  Orang  itu  Ialu berhenti di  salah  satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”
Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:
“Wahai  orang  tampan!  Apakah  engkau  memang  sengaja  memperolok-olokkanku, karena  aku  ini  adalah  orang  Arab  badwi?  Kalaulah  bukan  karena  ketampananmu  dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”
Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”
“Saya  percaya  dengan  mantap  atas  kenabiannya,  sekalipun  saya  belum  pernah melihatnya,   dan   membenarkan   kenabiannya,   sekalipun   saya   belum   pernah   bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.
Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah’.. aku inilah Nabimu  di  dunia  dan  penolongmu  nanti  di  akhirat!”  Melihat  Nabi di  hadapannya,  dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.
“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:
“Wahal orang Arab! janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannnya, Ketahuilah, ALLAH mengutusku bukan untuk menjadi  seorang  yang  takabbur  yang  meminta  dihormati,  atau  diagungkan,  tetapi  demi membawa berita.
Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad!  ALLAH mengucapkan salam kepadamu dan berfirman: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih ALLAH. Ketahuilah bahwa ALLAH akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti,  akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu,  Jibril kemudian pergi. Kemudian Rasululllah Shallallahu Alaihi wa Sallampun menyampaikan kabar dari Malaikat yang mulia Jibril Alaihissalam itu kepada arab badwi.
Maka orang Arab itu pula berkata: “Demi keagungan serta kemuliaan ALLAH,  jika ALLAH akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengan-Nya!” kata orang Arab badwi itu.
“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan ALLAH?” Rasulullah bertanya  kepadanya.
‘Jika  ALLAH  akan  memperhitungkan dosa-dosa  hamba,  maka hamba akan  memperhitungkan  betapa  kebesaran  maghfirahnya,’  jawab  orang  itu.
‘Jika  Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba,  maka hamba akan memperhitungkan betapa  keluasan  pengampunan-Nya.  Jika  Dia memperhitungkan kekikiran hamba,   maka hamba akan memperhitungkan pula betapa mulia kedermawanannya!’
Mendengar  ucapan  orang  Arab  badwi  itu,  maka  Rasulullah  s.a.w.  pun  menangis mengingatkan  betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Karenanya Malaikat Jibril turun kembali seraya berkata:
“Ya Muhammad! ALLAH menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa ALLAH  tidak  akan  menghisab  dirinya,  juga  tidak  akan  memperhitungkan  kemaksiatannya. ALLAH sudah rnengampuni semua kesalahannya dan la akan  menjadi temanmu di syurga nanti!”. Setelah mendengar perkabaran itu Rasulullahpun mengabarkannya kepada arab badwi dan alangkah senangnya orang Arab badwi itu  mendengar berita tersebut. lapun  menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.

Cerita Cinta Dan Taubatnya Al-Qass Seorang Pemuda Yang Shaleh Serta Nyanyian Cinta Sallamah Sang Gadis Pinangan Orang Quraisy

6
http://tausyah.wordpress.com/Kisah Cinta
Kisah Cinta
Al-Qass adalah orang yang paling baik ibadahnya di mata penduduk Mekkah. Pada suatu hari dia bertemu dengan Sallamah, gadis pinangan orang Quraisy. Lalu al-Qass mendengar nyanyiannya dan berhenti untuk mendengarkannya.
Pada saat itulah majikan gadis itu melihat al-Qass dan berkata,
“Maukah Anda masuk untuk mendengarkannya?”
Al-Qass pura-pura tidak mau sampai gadis itu mengizinkannya.
Al-Qass berkata, “Tempatkan saya di tempat yang sepi agar saya tidak dapat melihat dia dan dia tidak melihatku” Kemudian al-Qass masuk dan gadis itu pun menyanyi.
Gadis itu tertarik kepadanya. Lalu majikannya menawarkan kepada al-Qass untuk berkenalan dengannya, tetapi al-Qass tidak mau.
Pada suatu hari gadis itu berkata kepadanya, “Sungguh aku mencintaimu.”
Al-Qass menjawab, “Saya juga mencintaimu.”
Gadis itu berkata, “Aku ingin sekali mengecup bibirmu.”
Al-Qass berkata, “Saya juga.”
Gadis itu berkata, “Saya ingin menempelkan dadaku ke dadamu.”
Al-Qass menjawab, “Saya juga.”
Gadis itu berkata, “Lalu mengapa Anda tidak melakukannya? Sungguh tempat ini benar-benar sepi.”
Al-Qass menjawab, “Saya mendengar Allah berfirman yang artinya: Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS: az-Zukhruf:67)
Saya tidak ingin kasih sayang antara diriku dan dirimu berubah menjadi permusuhan di hari kiamat.”
Lalu gadis itu berkata, “Wahai al-Qass! Apakah Tuhanku dan Tuhanmu tidak menerima kita kalau bertobat kepadanya?
Al-Qass menjawab, “Ya! Tetapi saya tidak aman dari kematian yang datang dengan tiba-tiba.”
Kemudain al-Qass berdiri dan kedua matanya mengeluarkan air mata. Setelah itu dia tidak pernah kembali lagi ke tempat itu dan beribadahlah dia seperti sedia kala.
http://tausyah.wordpress.com

Aisyah binti Abu Bakar ra

Namanya adalah Aisyah yang diberi julukan as-Shiddiq ‘perempuan yang benar dan lurus’ dan masih banyak lagi julukan yang disematkan kepada sosok wanita cerdas nan mulia ini. Akan tetapi, Rasulullah lebih sering memanggilnya dengan Bintush-Shiddiq ‘putri dari laki-laki yang benar dan lurus (Abu Bakar)’.

Aisyah kecil adalah seorang anak yang cerdas. Tanda-tanda kecerdasannya itu terlihat dari perbuatan dan perkataannnya seolah-olah menandakan masa depan yang cemerlang dan akan melahirkan prestasi-prestasi besar. Akan tetapi, Aisyah kecil tetaplah seorang bocah yang tidak lepas dari dorongan naluriyah sebagai seorang bocah yang gemar bermain bersama teman-teman sepermainannya. Mainan yang disukai Aisyah adalah boneka dan ayunan. Suatu hari Rasulullah mendatangai Aisyah yang sedang asyik bermain boneka, di antara boneka-boneka itu ada boneka yang mempunyai sayap di kedua sisinya. Melihat boneka itu, Rasuulullah bertanya, “Apa ini, wahai Aisyah?”

“Kuda,” jawab Aisyah.

“Adakah kuda yang mempunyai dua sayap,” tanya Rasulullah kemudian.

“Bukankah kuda Sulaiman memiliki banyak sayap,” jawab Aisyah. Rasulullah tertawa mendengar jawaban Aisyah. Dari jawaban Aisyah tersebut terlihat akan kecerdasan, kepolosan, dan pengetahuannya yang luas tentang pengetahuan.
Aisyah kecil bukanlah sosok yang biasa. Dia mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi masa kecilnya, termasuk hadits-hadits yang didengarnya dari Rasulullah. Ia mampu memahami hadits-hadits itu, meriwayatkannya, menyimpulkan, dan memberi penjelasan tentang detail-detail hukum fiqih yang terkandung di dalamnya.

-----

Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama Rasulullah. Beliau adalah wanita pertama yang beriman memeluk islam dan kemudian menjadi pendamping terbaik Rasulullah di kala suka dan duka. Ketika penentangan kaum kafir terhadap dakwah Islam, Rasulullah sangat membutuhkan motivasi, hiburan, dan kekuatan, Khadijahlah yang selalu siap memberikan segalanya. Oleh karena itu, ketika Khadijah berpulang ke rahmatullah, Rasulullah merasakan duka yang amat mendalam. Hal itu membuat para sahabat merisaukan kondisi Rasulullah yang tenggelam dalam duka. Suatu hari, Kaulah binti Hakim (istri Utsman bin Mazh`un) mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau ingin menikah lagi?”

“Dengan siapa?” tanya Rasulullah.

“Perempuan seperti apa yang ingin engkau nikahi, gadis atau janda?” tanyanya.

Rasulullah balik bertanya, “Siapa yang gadis dan siapa pula yang janda?”

“Jika engkau menghendaki seorang janda, maka menikahlah dengan Saudah binti Zam`ah. Jika engkau mengingini seorang gadis, maka menikahlah dengan putri dari orang yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar,” jelasnya.

“Kalau begitu sampaikanlah kepadanya,” kata Rasulullah. Maka, Kaulah pun berangkat menuju kediaman Abu Bakar untuk menyampaikan sebuah berita.

Dalam beberapa hadits, dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bermimpi didatangi oleh malaikat yang membawa secarik kertas kain sutra. Rasulullah bertanya, “kain apakah ini?”

Malaikat pun menjawab, “Inilah istrimu?”

Maka, Rasulullah membuka kain itu dan ternyata gambar Aisyah tercetak di dalamnya.
Bukhari meriwayatkan kisah itu sebagai berikut. Rasulullah bersabda kepada Aisyah,
“Sebelum menikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimipi. Aku melihat malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Kukatakan kepadanya, ‘Singkapkanlah.’ Malaikat itu pun menyingkapkannya. Dan ternyata, kain itu memuat gambarmu. Lalu kukatakan, ‘Jika ini merupakan ketentuan Allah, maka Dia pasti akan membuatnya terjadi.’ Pada kesempatan lain, aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka, kukatakan ‘Singkaplah’. Dan ternyata itu memuat gambarmu. Lalu aku berkata, ‘Jika itu merupakan ketentuan Allah, maka Dia pasti akan membuatnya terjadi.’” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Akhirnya, Aisyah pun dinikahkan dengan Rasulullah. Ketika itu, Aisyah adalah seorang gadis cilik yang masih kenakak-kanakan dan berusia enam tahun. Dalam sebuah hadits, Asiyah menuturkan, “Rasulullah menikahiku ketika aku berusia enam tahun. Dan kami mulai hidup bersama ketika usiaku Sembilan tahun. Kami tiba di Madinah. Suatu hari, ketika aku sedang asyik bermain ayunan bersama teman-temanku, ibuku tiba-tiba datang dan berseru agar aku mendatanginya. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Ia lalu menggandeng tanganku hingga ke depan pintu rumah sampai aku terngah-engah. Setelah itu, aku menenangkan diri hingg napasku normal kembali. Ketika aku memasuki rumah, banyak perempuan Anshar telah berkumpul di sana. Mereka berkata kepadaku, ‘Semoga engkau memperoleh kebaikan, berkah, dan nasib yang baik.’ Ibuku pun menyerahkanku kepada mereka untuk mencuci rambutku dan merias wajahku. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh masuknya Rasulullah ke dalam kamarku pagi itu. Lalu para perempuan tadi menyerahkan diriku kepada baliau.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi)



----

Tidak ada waktu atau jam pelajaran tertentu bagi Aisyah untuk belajar kepada Rasulullah. Ia tinggal bersama Rasulullah dan memiliki kesempatan untuk menemani beliau sepanjang siang dan malam. Selain itu, majelis-majelis ilmu dan dakwah selalu diadakan di Masjid Nabawi setiap hari, sementara kamar Asiyah berdempetan dengan masjid. Setiap kali ada persoalan yang tidak dia pahami selalu ditanyakannya kepada Rasulullah di rumah, namun dalam beberapa kesempatan Aisyah berusaha mendekat ke masjid agar ia dapat menyimak dengan jelas pelajaran yang disampaikan Rasulullah. Sehari dalam seminggu, Rasulullah juga menyempatkan diri untuk mengajar kaum perempuan. Dengan begitu, Aisyah memiliki kesempatan untuk mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah tentang berbagai ilmu pengetahuan. Aisyah juga dikenal sebagai seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang mendalam sehingga ia terkenal sebagai sosok seorang wanita yang suka mengajukan pertanyaan dan tidak pernah merasa puas sebelum persoalan terselesaikan. Ia melacak setiap hal hingga ke bagian-bagian yang paling mendalam dan mendetail.

Rumah yang ditempati Rasulullah bersama Aisyah bukanlah istana yang besar dan megah, namun lebih tepat dikatakan sebagai kamar-kamar dan ruangan-ruangan kecil di perkampungan bani Najjar di sekeliling Masjid nabawi. Kediaman Rasulullah merupakan sumber cahaya ilahi dan mata air kenabian. Tetapi, dia tidak memiliki lentera duniawi. Rumah Rasulullah tidak memiliki lampu penerang. Aisyah mengisahkan, “Pernah selama empat puluh malam pada masa Rasulullah, rumah beliau tidak diterangi oleh lentera atau apa pun yang sejenisnya.” (HR Thayalisi dan Ishaq bin Rahawaih)

Pada awalnya, Aisyah hanya tinggal berdua bersama Rasulullah. Lalu Asiyah membeli seorang budak perempuan bernama Barirah dengan syarat agar perwalian budak itu berada di tangannya. Saat itu, istri Rasulullah hanyalah Saudah dan Aisyah. Maka, beliau selalu tinggal di rumah Aisyah sekali setiap dua malam, bergantian dengan Saudah. Ketika rasulullah akhirnya memiliki banyak istri, Saudah telah semakin tua. Ia pun meyerahkan hari gilirannya untuk diambil oleh Aisyah. Maka dalam Sembilan hari, Rasulullah tinggal bersama Aisyah selama dua hari—hari gilirannya sendiri ditambah hari giliran Saudah. (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Rasulullah bersama istri-istrinya tidak terlalu memedulikan kenyamanan rumah mereka dan tidak membutuhkan kenikmatan lahiriyah. Sangat jarang api dinyalakan di rumah Rasulullah.

---

Aisyah adalah salah seorang yang paling dicintai oleh Rasulullah. Para sahabat mengetahui dan mengakui hal tersebut. Jika mereka ingin memberikan sesuatu kepada Rasulullah, maka mereka akan memilih hari ketika beliau sedang bersama Aisyah. Rasa cinta Rasulullah kepada Aisyah membuat istri-istri beliau yang lain cemburu—sesuatu yang wajar dalam kehidupan berumah tangga. Suatu hari mereka mengutus Fatimah untuk menemui Rasulullah dan mengadukan kecemburuan mereka. Memenuhi permintaan itu, Fatimah menemui Rasulullah dan berkata, “Istri-istri ayah meminta ayah untuk berbuat adil dalam urusan Aisyah.”

“Wahai Fatimah, putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang kucintai?” ujar Rasulullah.

Maka Fatimah pun kembali menemui para istri Rasulullah dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh ayahnya. Ketika mereka meminta Fatimah untuk sekali lagi menyampaikan tuntunan mereka tentang Aisyah, Fatimah pun menolak. (HR Bukhari)
Meski dilanda rasa cemburu, istri-istri Rasulullah yang lain mengakui bahwa Aisyah layak memperoleh cinta beliau. Mereka sadar bahwa pengetahuan Aisyah tentang rahasia-rahasia Nabi jauh lebih kuat dan lebih mendalam dibandingkan dengan pengetahuan mereka.

Aisyah tidak hanya mencintai Rasulullah, dia juga selalu merindukan dan mengagumi beliau sepenuh hati. Cinta Aisyah kepada Rasulullah adalah cinta seorang perempuan muslim kepada Nabinya, cinta seorang istri kepada suaminya, serta cinta seorang perempuan kepada seorang laki-laki. Aisyah juga layaknya wanita biasa yang kadang dipenuhi rasa cemburu yang hebat kepada istri-istri Rasulullah yang lain dalam memperebutkan cinta dan perhatian Rasulullah. Sebuah perasaan yang timbul dari naluri kewanitannya. Allah telah menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai teladan sempurna bagi semua seluruh umat manusia. Beliau adalah suami terbaik yang selalu bersikap lemah lembut kepada istri dan keluarganya. Beliau tidak pernah bersikap keras kepada mereka. Ketika salah seorang dari istrinya marah, beliau justru berusaha meredakan kemarahannya.

Kala itu adalah tahun kesebelah hijriah. Usia Aisyah memasuki usia kedelapan belas. Ia sangat menikmati kehidupan berumah tangga bersama Rasulullah dalam suasana cinta, kasih sayang, dan kesetiaan di sepanjang waktu dan kesempatan. Suatu hari di bulan Shafar, tahun kesebelas Hijriah, Rasulullah mendatangi Aisyah dan mengeluhkan rasa sakit di kepalanya. Semakin lama, semakin berat rasa sakit yang diderita Rasulullah. Akan tetapi, beliau tetap berkeliling menunaikan giliran kunjungan terhadap istri-istri beliau. Ketika rasa sakit itu tak tertahankan, Rasulullah selalu bertanya dimana beliau tinggal hari ini dan di mana beliau akan tinggal esok hari, seakan-akan beliau tidak sabar menunggu giliran untuk bersama Aisyah. Oleh karena itu, istri-istri beliau mengizinkan Rasulullah untuk dirawat di mana pun beliau suka. Kemudian beliau memilih dirawat di rumah Aisyah hingga akhirnya beliau wafat di tempat Aisyah (HR Bukhari dan Muslim)

Ulasan yang lengkap dan mendalam tentang sosok Aisyah dikupas tuntas dalam buku Aisyah; The True Beauty karya Sulaiman an-Nadawi yang telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Pena Pundi Aksara. Penulisnya menuliskan kisah kehidupan Aisyah dengan apik dan cermat dalam menggambarkan sosok Aisyah dengan memasukkan hadits-hadits yang menguatkan. Sulaiman an-Nadawi adalah seorang ulama yang dilahirkan di India dan masih memiliki garis keturunan dengan Ali bin Abu Thalib, baik dari pihak ayah maupun ibunya. Selain mendalami ilmu hadits, dia juga mendalami ilmu kalam, tafsir, fiqih, dan sejarah. Cakupan dari isi buku, yaitu membahas tentang masa kecil Aisyah, serba-serbi pernikahan Aisyah dengan Rasulullah, kehidupan rumah tangga Aisyah selama mendampingi Rasulullah, hikmah yang didapat Aisyah dari poligami sang suami, Aisyah sepeninggal Rasulullah, karakter dan keistimewaan Aisyah, penguasaan Aisyah atas ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Qur`an, hadits, dan syariat, Aisyah sebagai salah satu sumber ilmu, Jasa Aisyah kepada kaum perempuan. [mirna]

Senin, 23 Juli 2012

Keteladanan Pribadi Rasulullah

Keteladanan Pribadi Rasulullah

Rasulullah merupakan hamba Allah yang sangat indah akhlaknya. Setiap muslim pasti ingin mencontoh akhlak mulianya. Seperti apakah akhlak yang dicontohkan baik dari wajah, cara berbicara, ketawadhuan maupun keberanian beliau. Mari Anda simak sejenak.
*Wajahnya
Wajah beliau selalu cerah ceria, jernih lagi menyenangkan untuk dilihat siapa pun. Pandangannya yang terpelihara dari hal maksiat, dari yang bukan muhrimnya. Senyum yang tulus selalu terpancar di wajahnya bisa membuat siapa pun merasa tentram serta menularkan sebuah semangat hidup.
Ucapan salam serta tegur sapanya selalu mendahului orang lain yang akan menyalaminya. Beliau memang berusaha menjadi orang yang paling awal berbuat kebaikan. Beliau pernah bersabda, “ jangan sekali-kali kamu remehkan kebaikan meski berupa keceriaan wajah ketika bertemu dengan saudaramu” (HR. Muslim).
*Berbicara
Dalam berbicara beliau sangat fasih, jelas, tidak bertele-tele. Beliau selalu memelihara diri dari perkataan sia-sia. Pembicaraannya selalu tepat situasi dan kondisi, sarat dengan makna dan hikmah, begitu teruntai dengan indah dan mengesankan. Setiap orang yang mendengarkan merasakan kandungan manfaat yang mendalam dari setiap ucapannya karena setiap yang ia ucapkan selalu bersesuaian dengan tindakannya.
*Ketawadhuannya
Di dalam diri beliau tidak ada seditpun kesombongan. Bahkan pesona ketawadhuannya semakin mengokohkan kemuliannya. Beliau sama sekali tidak menginginkan orang berdiri untuk menyambut kedatangannnya sebagaimana yang dilakukan para pejabat atau raja-raja pada masanya.
Di masjid, beliau duduk di mana saja, tidak menginginkan tempat yang disitimewakan. Beliau membawa sendiri barang belanjaannya di pasar tanpa merasa sungkan atau malu. Beliau biasa menjenguk orang sakit dan duduk bersama orang miskin. Selalu memenuhi undangan meski hanya seorang hamba sahaya yang mengundangnya, dan tidak suka membedakan diri dari para sahabatnya.
Aisyah pernah berkata, “Rasulullah biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri. Beliau sama dengan yang lain, mencuci pakaiannya sendiri, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri.”
*Keberaniannya
Beliau adalah manusia yag sangat pemberani dan memiliki sikap patriot yang luar biasa plus kekuatan fisik yang dasyat. Tak sulit untuk mengetahui keebradaannya di medan peperangan. Beliau tak kenal takut menghadapi situasi sulit dan tak pernah gentar berhadapan dengan musuh-musuhnya.
Beliau merupakan sosok yang paling tegar, pantang mundur, dan tidak bergeming saat situasi sengit mangancam. Ali bn Abi Thalib sampai berkata, “jika kami dikepung ketakutan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah. Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”
*Kedermawaannya
Sifat pemurah dan kedermawaan beliau bagai angin berhembus. Beliau member kepada siapa pun yang meminta. Kemurahan beliau yang paling menonjol ialah pada bulan Ramadhan. Beliau benar-benar murah hati daripada angin yang berhembus. Jabir ra berkata, “ tidak pernah beliau dimintai sesuatu lalu menjawab, ‘tidak’.
Tidak akan pernah berkurang harta yang dinafkahkan di jalan Allah denga sedekah, bagaimana mungkin berkurang, karena pada dasarnya harta kita merupakan milik Allah? Dia berjanji akan melipatgandakan rezeki orang yang rajin menafkahkan hartanya di jalanNya.
*Sifat lainnya
Beliau adalah orang yang paling aktif memenuhi janji. Paling dapat dipegang segala ucapannya. Penyambung tali silaturahmi. Paling penyayang dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain. Paling bagus pergaulannya.
Beliau tak segan untuk meminta saran dan pendapat dari sahabatnya sepanjang tak berkaitan dengan wahyu Ilahi. Beliau pun tak sungkan untuk membalas bagi siapa yang merasa diperlukan tidak adil oleh beliau.

link : http://amuslimblog.wordpress.com/2012/04/07/keteladanan-nabi/